ANALISIS KELAYAKAN PEMANFAATAN MURAI BATU (Copsychus
malabaricus) DALAM MENINGKATKAN EKONOMI MASYARAKAT
Dosen
Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh:
Muhammad Firza Akbar
191201125
Hut 4C
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Budidaya
burung berkicau dan burung hias merupakan salah satu kegemaran masyarakat
Indonesia.Burung kicau atau burung hias digemari karena pemeliharaan tidak
memerlukan lahan yang luas dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Burung
berkicau mampu juga menghasilkan suara yang indah, sehingga bisa menjadi
hiburan bagi masyarakat. Jika hal ini dikelola dengan baik, maka bisa
mendatangkan keuntungkan secara ekonomis, meningkatkan pendapatan masyarakat,
bahkan sangat prospektif sebagai ajang bisnis. Memelihara burung kini telah
menjadi kebiasaan sebagian masyarakat Indonesia, baik itu untuk sekedar hobbi,
maupun untuk kepentingan lomba atau kompetisi. Bagi para penghobi pada dasarnya
burung dipelihara untuk memberikan kepuasan bagi pemiliknya karena dapat
memberikan suasana alami berupa penampilan bentuk, warna, dan kicauannya yang
indah (Saputro et al., 2016).
Kebijakan pemerintah
dalam pemeliharaan burung diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 8 Tahun
1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Bab IX: Pemeliharaan
untuk Kesenangan Pasal 37 ayat (1) “Setiap orang dapat memelihara jenis tumbuhan
dan satwa untuk tujuan kesenangan”, serta ayat (2) “Tumbuhan dan satwa liar
untuk keperluan pemeliharaan untuk kesenangan hanya dilakukan terhadap jenis
yang tidak dilindungi”. Bagi pihak yang ingin melakukan pemeliharaan satwa liar
untuk kesenangan harus memenuhi persyaratan sesuai dengan PP No. 8 Tahun 1999
pasal 40 ayat (1) mewajibkan untuk (a) memelihara kesehatan, kenyamanan, dan
keamanan satwa liar peliharaannya dan (b) menyediakan tempat dan fasilitas yang
memenuhi standar pemeliharaan satwa liar.
Masyarakat Indonesia
menyukai hobi memelihara burung karena mudah merawatnya, warna dan bentuk
menarik, memiliki kemampuan berkicau yang bagus. Terdapat banyak jenis burung
kicau yang dijadikan burung peliharaan, salah satunya burung Murai Batu (Copsychus malabaricus). Tidak hanya
kicauannya yang merdu, warna dan bentuk badannya pun sangat menarik sehingga
memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Berdasarkan namanya burung Murai Batu
memiliki nama yang berbeda-beda dan biasanya diberi nama berdasarkan asal burung
Murai Batu itu sendiri. Seperti burung Murai Batu Medan, burung Murai Batu Aceh
dan burung Murai Batu Kalimantan. Burung Murai Batu termasuk ke dalam kelompok
burung Thruses yang dikenal bersifat teritorial dan sangat kuat mempertahankan
teritorinya. Tipe teritorinya adalah tipe
mating, nesting, dan feeding territory.
Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan salah
satu burung berkicau cerdas terbaik yang sangat banyak penggemarnya.
Ketenarannya bukan sekedar dari suara yang merdu, namun juga dari gaya
bertarungnya yang sangat atraktif (Ma’ruf, 2012). Murai Batu atau White Rumped
Shama adalah burung berkicau yang memiliki habitat relatif sangat luas. Cakupan
habitatnya memanjang dari India di bagian utara, Nepal hingga China. Di bagian
Selatan mencakup Sri Lanka hingga Indonesia, luas habitat murai batu secara
global diperkirakan mencapai 1.000.000--10.000.000 km². Forum Agri menambahkan
bahwa burung yang termasuk dalam famili Turdidae ini banyak tersebar di seluruh
Pulau Sumatra, Kalimantan, Semenanjung Malaysia, dan sebagian Pulau Jawa
(Mustaqim et al., 2016).
1.2 Rumussan Masalah
1. Apa
klasifikasi Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)?
2. Bagaimana
karakteristik Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)?
3. Bagaimana
proses reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)?
4. Bagaimana
proses penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)?
5. Berapa
keuntungan yang didapat dalam penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus)?
Tujuan
1. Untuk
mengetahui klasifikasi Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)
2. Untuk
mengetahui karakteristik Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)
3. Untuk
mengetahui proses reproduksi Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus)
4. Untuk
mengetahui proses penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus)
5. Untuk
mengetahui keuntungan yang didapat dalam penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus)
BAB
II
ISI
2.1
Klasifikasi Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus)
Burung
murai batu (Copsychus malabaricus) adalah anggota keluarga Turdidae. Burung
keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan suara yang baik dan merdu.
Kepopuleran burung murai batu tidak hanya dari segi suaranya yang menarik tapi
juga dari gaya bertarungnya yang bisa atraktif dengan tarian pada ekornya.
Burung
adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang memiliki
bulu dan sayap. Berbagai jenis burung ini secara ilmiah digolongkan kedalam kelas
Aves. Ma’ruf mengklasifikasikan ilmiah murai batu sebagai berikut:
Kerajaan : Animalia
Filum :
Chordata
Kelas :
Aves
Ordo :
Passeriformes
Famili :
Muscicapidae
Genus :
Copsychus
Spesies : Copsychus
malabaricus
Murai
batu tersebar cukup luas, sehingga orang mengenal jenisnya sesuai dengan daerah
asalnya, meliputi beberapa negara, seperti: India, Nepal, Myanmar, Sri Lanka,
Kepulauan Andaman, Filipina, Malaysia, Vietnam, Laos, Cina, Indonesia dan
Thailand. Murai batu di Indonesia tersebar di Kalimantan, Sumatra (Aceh, Pulau
Batu, Pulau Nias, Medan, Padang, Jambi, Bengkulu, Palembang dan Lampung), Jawa
dan Bali.
2.2 Karakteristik Burung Murai Batu
(Copsychus malabaricus)
Berbicara
mengenai burung berkicau, pasti tidak akan terlepas dari satu jenis burung yang
disebut dengan nama burung murai. Burung murai batu termasuk salah satu burung
yang cocok jadi hewan peliharaan. Burung murai batu yang bernama latin Copsychus malabaricus adalah anggota
keluarga Turdidae. Burung keluarga Turdidae dikenal memiliki kemampuan berkicau
yang baik dengan suara merdu, bermelodi, dan sangat bervariasi. Sekalipun
relatif pemalu, murai batu merupakan burung yang relatif mudah beradaptasi,
mudah dijinakkan, dan tidak mudah stres asal diberikan perawatan yang memadai.
Murai batu mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi dibandingkan dengan
burung-burung lainnya. Salah satunya ditunjukkan dengan kemampuannya dalam
merekam, mengingat, dan kemudian menirukan berbagai macam suara burung lain dan
suara benda di sekitarnya menjadi lagu suaranya sendiri. Selain itu, murai batu
dapat bernyanyi dan menghasilkan suara yang merdu, lantang, memiliki variasi
lagu suara yang tidak terputusputus, dan dilakukan dengan satu tarikan nafas.
Kicauannya
yang indah dapat menghipnotis para pecintanya. Ditambah lagi sewaktu bernyanyi
murai batu juga mampu menunjukkan gaya bertarungnya yang sangat aktraktif,
yakni dengan menggerak-gerakkan bagian ekornya, menegakkan atau membungkukkan
bagian dadanya, serta menggerak-gerakkan kepalanya. Berbagai kemampuan tersebut
menyebabkan burung ini sangat disukai banyak orang. Burung Murai Batu memiliki
daya tarik yang cukup besar untuk dipelihara karena termasuk kelompok burung
yang bersuara bagus atau The Best Song Birds.
2.3 Proses reproduksi Burung Murai
Batu (Copsychus malabaricus)
Siklus produksi
dan pertumbuhan burung murai batu lebih produktif selama puncak musim kawin dan
pasokan makanan yang baik, kedua indukan burung murai batu jantan dan betina
berperan selama berkembang biak. Betina membangun sarang dari akar, batang
pakis dan daun cemara. Setelah sarang jadi mereka akan melakukan kopulasi, yang
terjadi beberapa kali, biasanya jantan akan rajin berkicau dengan semangat dan
keras sebelum kawin. Setelah perkawinan dan pembuahan, dalam waktu 4-6 hari
induk murai batu akan bertelur, telur yang dihasilkan antara 2-3 butir. Induk
betina akan bertelur setiap hari sekali atau setiap 2 hari sekali, telur
berwarna kecoklatan dengan totol kehitaman.
Masa inkubasi telur
atau pengeraman oleh induk betina adalah 14 hari tepatnya, namun beberapa masa
inkubasi memakan waktu antara 12 sampai 16 hari, apabila waktu lebih dari itu
kemungkinan telur tidak menetas. Telur dierami oleh induk betina, sesekali
induk akan keluar sarang untuk mandi dan mencari makan, dalam hal ini man di
sangat penting bagi telur, selain untuk menjaga suhu dan temperatur telur juga
untuk melunakan cangkang telur supaya anakan dengan mudah proses penetasan
dengan mematuk cangkang telur. Hari pertama menetas, anakan sangat rentan dan
pada masa ini indukan betina akan sepenuhnya mengerami anaknya dan bergantian
dengan indukan jantan dan saling membawa makanan berupa kroto, ulat dan
jangkrik. Usia 3-4 hari sudah mulai terlihat perubahan adanya bulu jarum dan
indukan masih mengerami anakan karena tubuhnya masih belum tertutup oleh bulu
dan belum bisa menjaga kehangatan tubuhnya sendiri.
Usia 9-10 hari tubuh
anakan sudah mulai tertutup oleh bulu, namun masih belum sempurna banyak bulu
jarum yang masih belum pecah dan masa ini anakan sudah mulai mengeluarkan cuara
berupa cicitan ketika lapar serta anakan mulai membuka mata meski masih belum
sempurna. Usia 15-18 hari, semua bulu jarum sudah pecah, mengeluarkan suara,
mata sudah terbuka sempurna serta anakan sudah bergerak aktif, loncat ke
ranting dan tanah. Usia 28-30 hari anakan sudah mandiri, bisa terbang dan mau
mandi. Dari segi fisiologi, anakan sudah tumbuh dengan sempurna, bulu trotol
sudah tumbuh penuh dan kering, sudah terlihat lebih gagah dari sebelumnya,
menginjak usia 4 bulan bulu trotol mulai rontok digantikan dengan bulu dewasa
dan terlihat mengkilap, usia 1 tahun burung murai batu sudah matang dan siap
mencari pasangan dan kawin. (Akdiatmojo, 2017).
Angka
kematian lebih besar selama hari-hari terakhir mereka keluar dari sarang.
Selama tujuh hari pertama, berat anakan meningkat hampir dua kali lipat setiap
hari. Ini kemudian diikuti dengan penurunan yang signifikan dalam tingkat
pertumbuhan. Pada hari ke-10 piyikan umumnya berukuran antara 70% - 80% dari
berat dewasa. Mulai meninggalkan sarang pada 13-15 hari setelah menetas, dan
anakan dapat makan secara mandiri setelah umur 26 hari setelah menetas.
2.4 Proses penangkaran Burung Murai
Batu (Copsychus malabaricus)
Karena
kemampuannya dalam berkicau dan harganya yang cukup mahal, sehingga Burung
Murai Batu semakin memiliki banyak peminat. Mereka memburu murai batu yang
dikehendaki hingga ke pelosok daerah. Berapapun harga burung murai batu tidak
menjadi persoalan. Fakta tersebut menjadi peluang bagi para penjual burung.
Para penjual burung seringkali mendapatkan murai batu dari alam liar. Perburuan
liar yang terjadi secara besar-besaran, degradasi hutan, hingga konversi hutan
menyebabkan populasi burung ini terus berkurang. Menyikapi hal tersebut,
kemudian muncul regulasi daerah setempat maupun pemerintah untuk tidak menangkap
murai batu secara membabi buta. Bila penangkapan murai batu secara liar
dibiarkan saja, dikhawatirkan murai batu akan punah.
Untuk itu pengelolaan
habitat dan populasi dari burung murai batu sangat penting dalam upaya
melindungi habitat dan melestarikan burung murai batu. Himbauan pemerintah
untuk tidak menangkap murai batu secara liar mendorong beberapa peternak
mencoba menangkarkan murai batu di dalam kandang. Mereka mengondisikan
lingkungan kandang semirip mungkin dengan alam liar yang disukai oleh murai
batu. Usaha penangkaran tersebut selain untuk menjaga kelestarian murai batu di
alam liar, sekaligus memberikan manfaat ekonomis bagi para penangkarnya.
Penangkaran adalah
pembiakan satwa dan flora diluar habitatnya, dengan campur tangan manusia. Penangkaran
merupakan usaha/ kegiatan yang berkaitan dengan penangkaran satwa liar atau
tumbuhan alam, yang dapat meliputi kegiatan penangkaran sampai pada kegiatan
pemasaran hasil dari penangkaran. Penangkaran di Indonesia yang telah
dilakukan, dan dan sudah komersil adalah seperti penangkaran terhadap Buaya,
Ikan Siluk dan Monyet.
Penangkaran in-situ
adalah penangkaran atau pemeliharan satwa liar di habitat alam atau aslinya,
seperti jenis hewan Badak di Taman Nasional Ujung Kulon. Sedangkan penangkaran
ex-situ adalah penangkaran atau pemeliharan satwa liar di luar habitat aslinya.
Penangkaran secara ex-situ bertujuan untuk keperluan koleksi, penelitian dan
pelestarian.
Ada beberapa tahapan
yang dilakukan dalam melakukan penangkaran burung Murai Batu yaitu:
1. Persiapkan
mental dan rancangan awal, berkecimpung didalam dunia hobi pada prinsipnya
adalh suka, mau dan pantang menyerah. Orentasi dalam menangkarkan burung Murai
Batusebaiknya dimulai dari hobi yang memang disukai, jangan ikut-ikutan apalagi
target utamanya adalah bisnis, sebab yang dikelolah adalah mahluk hidup bukan
mesin.
2. Memilih
indukan untuk ditangkarkan, idealnya indukan yang akan di tangkarkan adalah
burung Murai Batu yang sudah mapan dari umur, lebih bagus lagi sudah berprestasi.
3. Membuat
kandang penangkaran, membuat kandang penangkaran tidak ada patokan yang penting
burung Murai Batu merasa nyaman dan dibentuk seperti habitat aslinya dengan
cara memberi pohon kecil didalam sebagai tenggeran burung Murai Batu.
4. Penjodohan,
pada prinsipnya penjodohan dilakukan secara perlahan mulai dari perkenalan,
pendekatan dan terakhir pencampuran kedua indukan, hal ini meminimalisir
perkelahian kedua indukan, oleh sebab itu ketiga proses tersebut mutlak harus
lakukan dengan sabar (Asmari, 2016).
2.5
Keuntungan yang didapat dalam penangkaran Burung Murai Batu (Copsychus malabaricus)
Penangkaran menjadi
salah satu alternatif atau upaya untuk melestarikan Burung Murai Batu, bukan
hanya dapat melestarikan murai batu tapi juga dapat membantu perekonomian
masyarakat. Murai batu merupakan salah satu burung yang memiliki nilai ekonomis
yang tinggi. Anakan murai batu umur 2--3 bulan dapat dihargai antara Rp.
2.000.000-- 5.000.000 bergantung pada kualitas indukan. Murai batu yang sudah
berprestasi dan sering memenangkan lomba dapat dihargai hingga ratusan juta
rupiah. Hal ini merupakan salah satu alasan banyak orang yang mulai
menangkarkan murai batu. Burung satu ini termasuk burung yang langka, sehingga
tidak mengherankan jika harga yang ditawarkan di pasaran cukup mahal. Harga
anakan murai batu umur 1,5 - 2,0 bulan berkisar antara 2 - 4 juta rupiah,
sedangkan untuk burung yang sudah berprestasi pada umumnya akan dihargai
minimal seharga 10 juta rupiah.
Biasanya untuk sepasang burung murai medan yang sudah produk di jual dengan harga berkisar Rp 9.000.000 sampai Rp 10.000.000 sedangkan untuk burung murai medan yang belum produk atau masih dalam penjodohan biasanya di jual dengan harga yang lebih murah yakni sekitar rp 7.000.000 sampai Rp 9.000.000 tergantung dari kualitas indukannya bahkan saya pernah dengar dari teman ada cukup banyak indukan murai medan yang di jual dengan harga yang lebih tinggi bahkan bisa mencapai 20 jutaan perpasang. Dengan hasil yang menjanjikan dari penangkaran Burung Murai Batu sehingga banyak masyarakat yang ingin mencoba peruntungannya dengan membudidayakan murai batu.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
1. Murai
batu (Copsychus malabaricus)
merupakan salah satu burung berkicau cerdas terbaik yang sangat banyak
penggemarnya. Ketenarannya bukan sekedar dari suara yang merdu, namun juga dari
gaya bertarungnya yang sangat atraktif.
2. Murai
batu mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi dibandingkan dengan
burung-burung lainnya. Salah satunya ditunjukkan dengan kemampuannya dalam
merekam, mengingat, dan kemudian menirukan berbagai macam suara burung lain dan
suara benda di sekitarnya menjadi lagu suaranya sendiri.
3. Siklus
produksi dan pertumbuhan burung murai batu lebih produktif selama puncak musim
kawin dan pasokan makanan yang baik, kedua indukan burung murai batu jantan dan
betina berperan selama berkembang biak. Betina membangun sarang dari akar,
batang pakis dan daun cemara. Setelah sarang jadi mereka akan melakukan
kopulasi, yang terjadi beberapa kali, biasanya jantan akan rajin berkicau
dengan semangat dan keras sebelum kawin.
4. Penangkaran
Murai Batu dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, tahapan – tahapan nya
yaitu: (1) Persiapan mental dan rancangan awal, (2) Memilih indukan untuk
ditangkarkan, (3) Membuat kandang penangkaran, dan (4) Penjodohan.
5. Murai
batu merupakan salah satu burung yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Anakan
murai batu umur 2--3 bulan dapat dihargai antara Rp. 2.000.000- 5.000.000
bergantung pada kualitas indukan. Murai batu yang sudah berprestasi dan sering
memenangkan lomba dapat dihargai hingga ratusan juta rupiah.
3.2 Saran
Sebaiknya pada
saat ingin melakukan penangkaran terhadap Burung Murai Batu, kita harus
mempersiapkan semua kebutuhan semaksimal mungkin sehingga mampu membuat nyaman
Murai Batu, seperti pembuatan kandang yang mirip seperti tempat tinggalnya
serta memberikan pakan yang cukup pada Murai Batu agar masyarakat dapat
melestarikan Murai Batu tersebut.
DAFTAR
PUSTAKA
Akdiatmojo S. 2017. Panduan Menangkarkan Murai Batu.
Jakarta: Agro Media Pustaka.
Andri A. 2016. Memilih dan Mencetak Murai Batu
Berprestasi. Bandung: CV Idzhar.
Dananjoyo G, Hermawan F, Sungkowo B. 2020. Analisis
Kelayakan Keuangan Bisnis Budi Daya Burung Murai Batu Narogong. Jurnal
Manajeman, 12(2):
190-198.
Mua’rif Z. 2012. Rahasia Penangkaran Burung Murai
Batu. Yogyakarta: Lyli Publisher.
Mustaqim E, Kurtini T, Riyanti R. 2016.
Karakteristik Sifat Kualitatif Induk Murai Batu (Copsychus Malabaricus) Siap Produksi. Jurnal Ilmiah
Peternakan Terpadu, 4(3):
204 – 210.
Saputro A D, Nova K, Kurtini T. 2016.
Perilaku Burung Murai Batu (Copsychus
malabaricus) Siap Produksi. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu, 4(3): 188- 194.

