Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan Medan,
Mei 2020
FIGUR
PENGUSAHA SUKSES
Pak
Paris Sembiring
Dosen Penanggung Jawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Muhammad
Firza Akbar
191201125
Hut
2C
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
MEDAN
2020
KATA
PENGANTAR
Puji dan
syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan
karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat melaksanakan tugas Mata Kuliah
Kewirausahaan ini dengan baik dan tepat waktu. Tujuan dari penulisan laporan
ini yaitu sebagai salah satu komponen tugas yang harus diselesaikan , di
Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Adapun
judul laporan ini adalah “Figur Pengusaha Sukses”
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung
jawab Mata Kuliah, Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. yang telah memberikan
materi dengan baik dan benar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada
asisten yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis membuat
laporan ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih
banyak kesalahan yang terjadi baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan laporan ini.
Medan, Mei 2020
Penulis
i
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar......................................................................................................................... i
Daftar Isi...................................................................................................................................... ii
Bab I
Latar belakang........................................................................................................... 1
Profil Usaha Narasumber.......................................................................................... 2
Bab II
Prestasi/Kesuksesan Narasumber.............................................................................. 5
Bab III
Kiat dan Teknik Pendekatan Kreatif.......................................................................... 6
Bab IV
Kesimpulan............................................................................................................... 9
Saran......................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka
Daftar Isi...................................................................................................................................... ii
Bab I
Latar belakang........................................................................................................... 1
Profil Usaha Narasumber.......................................................................................... 2
Bab II
Prestasi/Kesuksesan Narasumber.............................................................................. 5
Bab III
Kiat dan Teknik Pendekatan Kreatif.......................................................................... 6
Bab IV
Kesimpulan............................................................................................................... 9
Saran......................................................................................................................... 9
Daftar Pustaka
ii
BAB I
Latar Belakang
Tidak dapat dipungkiri bahwa
Indonesia menghadapi masalah keterbatasan kesempatan kerja bagi para lulusan
perguruan tinggi dengan semakin meningkatnya jumlah pengangguran intelektual
belakangan ini. Laporan International
Labor Organization (ILO) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada tahun
2009 di Indonesia berjumlah 9.6 juta jiwa (7.6%), dan 10% diantaranya adalah
sarjana. Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia mendukung pernyataan ILO
tersebut yang menunjukkan sebagian dari jumlah pengangguran di Indonesia adalah
mereka yang berpendidikan Diploma/ Akademi/dan lulusan Perguruan Tinggi.
Kondisi yang dihadapi akan semakin diperburuk dengan situasi persaingan global
(misal pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA) yang akan memperhadapkan
lulusan perguruan tinggi Indonesia bersaing secara bebas dengan lulusan dari
perguruan tinggi asing. Oleh karena itu, para sarjana lulusan perguruan tinggi
perlu diarahkan dan didukung untuk tidak hanya berorientasi sebagai pencari
kerja (job seeker) namun dapat dan
siap menjadi pencipta pekerjaan (job
creator) juga. Menumbuhkan jiwa kewirausahaan para mahasiswa perguruan
tinggi dipercaya merupakan alternatif jalan keluar untuk mengurangi tingkat
pengangguran, karena para sarjana diharapkan dapat menjadi wirausahawan muda
terdidik yang mampu merintis usahanya sendiri. Jumlah wirausahawan muda di
Indonesia yang hanya sekitar 0,18% dari total penduduk masih tertinggal jauh
dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika yang mencapai 11,5% maupun
Singapura yang memiliki 7,2% wirausahawan muda dari total penduduknya. Padahal secara
konsensus, sebuah negara agar bisa maju, idealnya memiliki wirausahawan
sebanyak 5% dari total penduduknya yang dapat menjadi keunggulan daya saing
bangsa. Lebih lanjut, menyikapi persaingan dunia bisnis masa kini dan masa
depan yang lebih mengandalkan pada knowledge dan intelectual capital, maka agar
dapat menjadi daya saing bangsa, pengembangan wirausahawan muda perlu diarahkan
pada kelompok orang muda terdidik (intelektual). Mahasiswa yang adalah calon
lulusan perguruan tinggi perlu didorong dan ditumbuhkan niat mereka untuk
berwirausaha (Interpreneurial intention).
1
Profil Usaha Narasumber
Paris
Sembiring (lahir
di Deliserdang, Sumatra Utara, 26 Mei 1958; umur 62 tahun) adalah aktivis lingkungan peraih penghargaan Kalpataru tahun
2003 kategori Pembina Lingkungan. Usahanya dihargai oleh Pemerintah karena
dinilai sebagai pelopor pelestarian lingkungan hidup di Kota Medan dan sekitarnya. Pada tahun 2011, Paris Sembiring
juga mendapatkan penghargaan Kick Andy Heroes Bidang
Lingkungan.
Gambar 1. Foto Paris Sembiring
Dalam pendidikan formal,
Paris Sembiring sebenarnya tidak sempat lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Keterbatasan pendidikan formal yang dia dapatkan pada masa mudanya, membuat
pria berdarah Suku Karo ini sempat menjalani profesi masyarakat
kelas bawah mulai dari bekerja sebagai buruh, loper
koran, petani,
hingga tukang becak.
Keisengannya mengumpulkan
buah mahoni sembari
menunggu penumpang becaknya di antara tahun 1978 - 1982 menjadi awal bagi
dirinya berminat untuk menanam pohon. Buah mahoni yang dia kumpulkan kemudian
disemaikan jadi bibit. Kemudian bibit yang sudah jadi tersebut
dibagi-bagikannya kepada tetangga untuk ditanam, baik di pekarangan mereka atau
di kebun.
2
Selang beberapa waktu,
Paris Sembiring bukan cuma membuat bibit mahoni saja, tapi dia juga membuat
bibit pohon lainnya seperti meranti dan beringin yang
bisa hidup di daerah bebatuan. Menurut pengakuannya, sebagian bibit dia
kumpulkan dari hutan, tetapi sebagian ada juga diberikan oleh para kenalannya. Kegiatan
mengutip buah mahoni itu kemudian terhenti sejak Paris tak lagi menarik becak.
Pekerjaan ini dia tinggalkan karena pada 1981 Pemerintah Kota Medan melarang
becak memasuki tengah kota. Sebagai gantinya, Paris buka warung kopi di
kawasan Padang Bulan Medan.
Usaha warung kopi yang
dilakoninya tidak berjalan mulus, Paris Sembiring akhirnya mencoba kegiatan
sambilan sebagai petani dengan mengusahai sepetak tanah yang terdapat di
belakang rumah kontrakannya. Disaat itulah Paris kemudian memikirkan pembuatan
penangkaran benih. Hal ini dia mulai dari beberapa jenis bibit. Tidak disangka,
jumlah bibit di lahan penangkaran makin banyak, meski dalam kurun waktu yang
tidak terlalu lama.
Sejak 20 tahun berprofesi
sebagai penangkar benih, hingga saat ini Paris Sembiring mengaku telah
memproduksi lebih dari jutaan bibit yang dihasilkan. Saat ini Paris telah
memiliki kebun pelestarian seluas tiga hektar di Deli Serdang yang dikenal dengan
sebutan Sapo Rukun Bersama Tanaman. Sementara lokasi pembibitan
lainnya berada di Pancurbatu yang disebut Sapo
Rindu Berkat Tuhan, dan juga di Kelurahan Titi Kuning Medan.
Kegiatan
·
Pendiri Bank Pohon Indonesia di
Sumatra Utara
·
Pembina Parintal Fakultas Pertanian
USU
·
Anggota Asoka Innovators for The
Public
·
Pembicara pada Berbagai Seminar
Lingkungan Hidup
Penghargaan
·
Kalpataru Kategori Pembina
Lingkungan Hidup (2003)
·
Kader Konservasi Alam Terbaik I
Tingkat Nasional
·
Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup
oleh Yayasan Hati Indonesia (2008)
·
Asoka Innovators for The Public
·
Kick Andy Heroes Bidang Lingkungan
(2011)
·
Satya Lencana Pembangunan Bidang
Lingkungan Hidup (2013)
3
Datang ke sekolah-sekolah dan
berbicara tentang lingkungan kini jadi kegiatan sehari-hari Paris Sembiring.
Padahal, dulu hal ini tidak terbayangkan olehnya. Di akhir tahun 70-an, berbekal
ijazah sekolah dasar, Paris mencoba mengadu nasib di Kota Medan, Sumatera
Utara. Profesi yang dipilihnya adalah tukang becak. Sehari-hari mengayuh becak,
Paris tidak lupa pengalaman masa kecilnya.
Sebagai anak petani, Paris biasa
menyemai bibit pohon yang dibuang orang lain. "Saat menarik becak saya
sering ketiduran di bawah pohon dan terbangun karena kejatuhan daun atau biji.
Dari situ muncullah inspirasi," ujar Paris seperti ditayangkan Liputan
6 SCTV, Minggu (29/9/2013). Beberapa lama kemudian, berbekal ketekunan
mengumpulkan bibit pohon, Paris memiliki kumpulan pohon yang disebutnya bank
pohon. Paris pun melihat peluang untuk mendapat penghasilan sekaligus membantu
penghijauan.
Sejak awal berdiri, tak terhitung
sudah bibit pohon lahir dari Bank Pohon milik Paris Sembiring. "Bukan
hanya menyiapkan bibitnya, sampai biaya perawatan pun beliau tidak sungkan
memberi," jelas Imanuel Ginting, pendeta Gereja Batak Karo Protestan di
lingkungan Paris. Sekarang, Bank Pohon pertama menempati lahan seluas satu
hektare di Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut. Bank ini memiliki sekitar 2 juta bibit
berbagai jenis tanaman, termasuk sejumlah tanaman langka dan 16 jenis tanaman
tradisional suku Batak Karo.
Di Bank Pohon, para pelajar bisa bebas belajar tentang
seluk-beluk pembibitan tanaman. Paris suka berbagi pengalaman, terutama tips
cara mudah menyemai bibit pohon. "Kami bangga, karena pendidikan Bapak
yang hanya tamat SD tapi bisa sukses menjadi pembina lingkungan," ujar
Hezra, pelajar SMPN 1 Sunggal. Kekaguman juga datang dari guru yang melihat
Paris bisa memberi inspirasi kepada anak didik. "Kalau dulu hanya menanam,
sekarang anak-anak benar-benar cinta pada tanaman dan pohon," ujar Hati
Situmorang, salah seorang guru di SMPN 1 Sunggal.
Beragam penghargaan jatuh ke
pangkuan Paris, mulai dari Kalpataru hingga penghargaan internasional Ashoka Award.
"Dulu saya harap saya yang kuliah ini bisa sukses, tapi bapak yang tamat
SD ternyata membalik keadaan," ujar Nursity Br Tarigan, istri Paris. Kini,
pria yang berusia 62 tahun ini berharap apa yang sudah ditumbuhkannya selama
ini, seperti rasa peduli terhadap lingkungan, terus meluas dan menjadi gerakan
nasional.
4
BAB II
Prestasi/ Kesuksesan Narasumber
Saat ini Paris telah
memiliki kebun pelestarian seluas tiga hektar di Deli Serdang yang dikenal
dengan sebutan Sapo Rukun Bersama Tanaman. Sementara lokasi
pembibitan lainnya berada di Pancurbatu yang disebut Sapo
Rindu Berkat Tuhan, dan juga di Kelurahan Titi Kuning Medan.
Kegiatan
·
Pendiri Bank Pohon Indonesia di
Sumatra Utara
·
Pembina Parintal Fakultas Pertanian
USU
·
Anggota Asoka Innovators for The
Public
·
Pembicara pada Berbagai Seminar
Lingkungan Hidup
Penghargaan
·
Kalpataru Kategori Pembina
Lingkungan Hidup (2003)
·
Kader Konservasi Alam Terbaik I
Tingkat Nasional
·
Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup
oleh Yayasan Hati Indonesia (2008)
·
Asoka Innovators for The Public
·
Kick Andy Heroes Bidang Lingkungan
(2011)
·
Satya Lencana Pembangunan Bidang
Lingkungan Hidup (2013)
Gambar 2. Paris Sembiring menerima
penghargaan Kalpataru
5
BAB III
Kiat
dan Teknik Pendekatan Kreatif
Laki-laki
yang awalnya berprofesi sebagai tukang becak ini menemukan banyak sekali biji
pohon mahoni berjatuhan di tempat ia dan becaknya beristirahat siang. Kemudian
ia membawa biji-biji tersebut pulang dan mulai melakukan penyemaian di halaman
rumah yang disewanya. “Pohon mahoni besar itu sudah memberiku keteduhan saat
tidur siang. Jadi tergerak hatiku membibitkan bijinya dan menanamnya. Kuncinya
asal mau saja, penarik becak pun tidak tertutup kesempatannya berjasa untuk
lingkungan. Kita harus pikirkan, karena pohon-pohon itu kita bisa bernafas.
Mari kita sama-sama menanam, minimal satu pohon satu orang,” katanya.
Pada tahun
1978 Paris berhenti menarik becak, dan memutuskan membuka warung kopi di
Simpang Pos, kota Medan. Di tanah kosong seluas 4.000 meter di belakang rumah
sewaannya itu, Paris mengelola pembibitan berbagai jenis tanaman. Semakin lama
pembibitan tersebut semakin besar. Ia pun semakin mantap memproduksi bibit
penghijauan dan buah, dalam jumlah besar. Paris kemudian membeli lahan di Desa Lango
Seprang, Kecamatan Tanjung Morawa, Medan seluas 4 hektar dan menjadikan lokasi
tersebut sebagai tempat persemaian. “Semangat saya pun makin tinggi. Ada bibit
yang dijual, ada yang dibagi-bagi untuk penghijauan,” katanya.
6
Sejak saat
itu, nama Paris terkenal di kalangan konservator, penggiat lingkungan, instansi
pertanian, kehutanan dan lingkungan hidup di kalangan gereja, tokoh agama,
pemuda dan pelajar. Paris yang putus sekolah dari bangku kelas II SMP Masehi
sering diundang memberi pelatihan bagi kader lingkungan, membuat persemaian
hingga ke seminar-seminar berkelas. Ia duduk bersama para profesor pertanian
sebagai narasumber.
Perjalanannya
semakin sibuk ke berbagai daerah di Indonesia, aktivitasnya padat dan
pekerjaannya didedikasikan untuk lingkungan dan masyarakat sosial. Tak sekadar
berorientasi pribadi, Paris menyumbangkan bibit-bibit yang dimilikinya kepada
masyarakat. Bapak lima anak ini juga gigih membentuk kader konservasi
lingkungan hidup. Saat ini tercatat 300 kelompok kader konservasi di Sumatera
hasil pembinaannya dengan keanggotaan 15-40 orang per kelompok. Ratusan desa
didatanginya. Tak hanya wilayah yang tergolong aman, Paris juga masuk ke
wilayah yang menjadi basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia mengaku tak mengalami
kesulitan apapun dalam pendekatan kepada masyarakat termasuk dengan pasukan dan
pendukung GAM. “Sebab saya datang sebagai saudara mereka,” ucapnya.
Upaya
Paris dalam melestarikan lingkungan hidup lebih dari 10 tahun membuatnya
dianugerahi 45 piagam penghargaan, diantaranya: Kalpataru kategori Pembina
Lingkungan Hidup (2003) dan Kader Konservasi Alam Terbaik I Tingkat Nasional
dan Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup dari Yayasan Hayati Indonesia (Agustus
dan Desember 2008). ”Bumi ini adalah rumah kita, jadi harus kita jaga dan
rawat. Agar kelak tetap baik kita wariskan kepada anak cucu,” tegasnya.
Perhargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia itu, tidak
membuatnya puas. Tanggungjawab moralnya justru semakin besar. Bulan Juni 2004,
Paris mendirikan Bank Pohon Sumatera Utara di lahan 1 hektar di Jalan Jamin
Ginting Km 15,5 Medan. “Kebahagiaan batin dan berbuat untuk menyelamatkan
lingkungan lebih menyenangkan daripada memikirkan harta benda. Lihat itu mobil
saya, tetap yang bekas-bekas. Kalau berpikiran berbisnis dari bibit ini,
bukannya tak bisa mendapatkan limousin,” kata Paris.
7
Tak kurang
30 juta bibit tanaman telah dibuat Bank Pohon Sumut dan distribusikan secara
gratis kepada masyarakat. Bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup
Regional Sumatera, Bank Pohon terus berkembang. Saat ini terdapat 12 Bank Pohon
di 10 Provinsi, meliputi Medan, Solok, Bengkulu, Palembang, Lampung, Pangkal
Pinang, NAD, Tanjung Pinang, Jambi, Karo, Padang Panjang, dan Pekanbaru.
Seperti kondisi saat ini, beliau mengatakan bahwa ia tetap
menjalankan bisnisnya seperti biasa, tidak ada yang berubah dan berkurang sama
sekali, ia tetap memperkerjakan karyawan karyawannya dengan menerapkan protocol
kesehatan yang dianjurkan WHO dan Pemerintah. Namun saat ini juga,mengingat
kondisi dalam masa pandemic Covid-19, beliau menerapkan bisnis daring,yaitu
menjual bibit tanaman secara online. Dan omset yang ia dapatkan menurun
semenjak covid-19 masuk ke Indonesia. Tapi beliau tidak pernah patah
semangat,ia tetap peduli dan cinta terhadap lingkungan.
8
BAB IV
Kesimpulan
Kesimpulan yang
dapat diambil dari kisah Pak Paris Sembiring adalah sebenernya kita semua mampu
untuk berwirausaha sesuai dengan passion/minat kita,dan juga sudah saatnya kita
mulai menumbuhkan rasa peduli dan cinta terhadap lingkungan kita. Pohon adalah
nafas bagi kehidupan manusia, dan tanpanya maka manusia akan mati. Begitulah
prinsip hidup yang diterapkan oleh Pak Paris Sembiring. Beliau juga tak kenal
lelah dan terus berupaya membangun kesadaran masyarakat yang ditemuinya agar
senantiasa membangun keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan hidupnya.
Saran
Sebaiknya
penulis lebih cermat dan lebih detail dalam membuat pertanyaan yang akan
diajukan kepada narasumber,dan sebaiknya penulis lebih teliti lagi dalam
pemilihan diksi dan pembuatan laporan.
9
DAFTAR PUSTAKA
https://adveyntureindonesia.wordpress.com/2011/09/14/paris-sembiring
menyelamatkan-bumi-follow-him/
(Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 22:42 WIB).
https://www.changemakers.com/ashoka-fellows/entries/bank-pohon (Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 23:16 WIB),
https://id.wikipedia.org/wiki/Paris_Sembiring (Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 20:00 WIB)
https://www.liputan6.com/news/read/705803/video-paris-sembiring-tukang-becak-pelopor-bank-pohon (Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 22:14 WIB).
Suharti, L., & Sirine, H. (2012). Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap
Niat Kewirausahaan (Entrepreneurial
Intention). Jurnal manajemen dan kewirausahaan, 13(2),
124-134.



