Senin, 01 Juni 2020

Tugas Kewirausahaan


Tugas Mata Kuliah Kewirausahaan                                                                                                                 Medan,   Mei 2020
FIGUR PENGUSAHA SUKSES
Pak Paris Sembiring

Dosen Penanggung Jawab :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.
Oleh :
Muhammad Firza Akbar
191201125
Hut 2C











PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2020



KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat melaksanakan tugas Mata Kuliah Kewirausahaan ini dengan baik dan tepat waktu. Tujuan dari penulisan laporan ini yaitu sebagai salah satu komponen tugas yang harus diselesaikan , di Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Adapun judul laporan ini adalah “Figur Pengusaha Sukses”
            Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab Mata Kuliah, Dr. Agus Purwoko., S.Hut., M.Si. yang telah memberikan materi dengan baik dan benar. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada asisten yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penulis membuat laporan ini.
            Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih banyak kesalahan yang terjadi baik dalam penulisan maupun penyajiannya. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini.


Medan,        Mei 2020


                                                                                                                            Penulis

i

DAFTAR ISI
     Halaman
Kata Pengantar.........................................................................................................................     i
Daftar Isi......................................................................................................................................    ii
Bab I
       Latar belakang...........................................................................................................     1
       Profil Usaha Narasumber..........................................................................................     2
Bab II
       Prestasi/Kesuksesan Narasumber..............................................................................     5
Bab III
       Kiat dan Teknik Pendekatan Kreatif..........................................................................    6
Bab IV
       Kesimpulan...............................................................................................................     9
       Saran.........................................................................................................................     9
Daftar Pustaka
      
ii

BAB I
Latar Belakang
            Tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia menghadapi masalah keterbatasan kesempatan kerja bagi para lulusan perguruan tinggi dengan semakin meningkatnya jumlah pengangguran intelektual belakangan ini. Laporan International Labor Organization (ILO) mencatat jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2009 di Indonesia berjumlah 9.6 juta jiwa (7.6%), dan 10% diantaranya adalah sarjana. Data dari Badan Pusat Statistik Indonesia mendukung pernyataan ILO tersebut yang menunjukkan sebagian dari jumlah pengangguran di Indonesia adalah mereka yang berpendidikan Diploma/ Akademi/dan lulusan Perguruan Tinggi. Kondisi yang dihadapi akan semakin diperburuk dengan situasi persaingan global (misal pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA) yang akan memperhadapkan lulusan perguruan tinggi Indonesia bersaing secara bebas dengan lulusan dari perguruan tinggi asing. Oleh karena itu, para sarjana lulusan perguruan tinggi perlu diarahkan dan didukung untuk tidak hanya berorientasi sebagai pencari kerja (job seeker) namun dapat dan siap menjadi pencipta pekerjaan (job creator) juga. Menumbuhkan jiwa kewirausahaan para mahasiswa perguruan tinggi dipercaya merupakan alternatif jalan keluar untuk mengurangi tingkat pengangguran, karena para sarjana diharapkan dapat menjadi wirausahawan muda terdidik yang mampu merintis usahanya sendiri. Jumlah wirausahawan muda di Indonesia yang hanya sekitar 0,18% dari total penduduk masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju seperti Amerika yang mencapai 11,5% maupun Singapura yang memiliki 7,2% wirausahawan muda dari total penduduknya. Padahal secara konsensus, sebuah negara agar bisa maju, idealnya memiliki wirausahawan sebanyak 5% dari total penduduknya yang dapat menjadi keunggulan daya saing bangsa. Lebih lanjut, menyikapi persaingan dunia bisnis masa kini dan masa depan yang lebih mengandalkan pada knowledge dan intelectual capital, maka agar dapat menjadi daya saing bangsa, pengembangan wirausahawan muda perlu diarahkan pada kelompok orang muda terdidik (intelektual). Mahasiswa yang adalah calon lulusan perguruan tinggi perlu didorong dan ditumbuhkan niat mereka untuk berwirausaha (Interpreneurial intention).

1

Profil Usaha Narasumber
        Paris Sembiring (lahir di DeliserdangSumatra Utara26 Mei 1958; umur 62 tahun) adalah aktivis lingkungan peraih penghargaan Kalpataru tahun 2003 kategori Pembina Lingkungan. Usahanya dihargai oleh Pemerintah karena dinilai sebagai pelopor pelestarian lingkungan hidup di Kota Medan dan sekitarnya. Pada tahun 2011, Paris Sembiring juga mendapatkan penghargaan Kick Andy Heroes Bidang Lingkungan.

Gambar 1. Foto Paris Sembiring

Dalam pendidikan formal, Paris Sembiring sebenarnya tidak sempat lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keterbatasan pendidikan formal yang dia dapatkan pada masa mudanya, membuat pria berdarah Suku Karo ini sempat menjalani profesi masyarakat kelas bawah mulai dari bekerja sebagai buruhloper koranpetani, hingga tukang becak.

Keisengannya mengumpulkan buah mahoni sembari menunggu penumpang becaknya di antara tahun 1978 - 1982 menjadi awal bagi dirinya berminat untuk menanam pohon. Buah mahoni yang dia kumpulkan kemudian disemaikan jadi bibit. Kemudian bibit yang sudah jadi tersebut dibagi-bagikannya kepada tetangga untuk ditanam, baik di pekarangan mereka atau di kebun.

2

Selang beberapa waktu, Paris Sembiring bukan cuma membuat bibit mahoni saja, tapi dia juga membuat bibit pohon lainnya seperti meranti dan beringin yang bisa hidup di daerah bebatuan. Menurut pengakuannya, sebagian bibit dia kumpulkan dari hutan, tetapi sebagian ada juga diberikan oleh para kenalannya. Kegiatan mengutip buah mahoni itu kemudian terhenti sejak Paris tak lagi menarik becak. Pekerjaan ini dia tinggalkan karena pada 1981 Pemerintah Kota Medan melarang becak memasuki tengah kota. Sebagai gantinya, Paris buka warung kopi di kawasan Padang Bulan Medan.
Usaha warung kopi yang dilakoninya tidak berjalan mulus, Paris Sembiring akhirnya mencoba kegiatan sambilan sebagai petani dengan mengusahai sepetak tanah yang terdapat di belakang rumah kontrakannya. Disaat itulah Paris kemudian memikirkan pembuatan penangkaran benih. Hal ini dia mulai dari beberapa jenis bibit. Tidak disangka, jumlah bibit di lahan penangkaran makin banyak, meski dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama.

Sejak 20 tahun berprofesi sebagai penangkar benih, hingga saat ini Paris Sembiring mengaku telah memproduksi lebih dari jutaan bibit yang dihasilkan. Saat ini Paris telah memiliki kebun pelestarian seluas tiga hektar di Deli Serdang yang dikenal dengan sebutan Sapo Rukun Bersama Tanaman. Sementara lokasi pembibitan lainnya berada di Pancurbatu yang disebut Sapo Rindu Berkat Tuhan, dan juga di Kelurahan Titi Kuning Medan.

 Kegiatan

·         Pendiri Bank Pohon Indonesia di Sumatra Utara
·         Pembina Parintal Fakultas Pertanian USU
·         Anggota Asoka Innovators for The Public
·         Pembicara pada Berbagai Seminar Lingkungan Hidup
Penghargaan
·         Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan Hidup (2003)
·         Kader Konservasi Alam Terbaik I Tingkat Nasional
·         Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup oleh Yayasan Hati Indonesia (2008)
·         Asoka Innovators for The Public
·         Kick Andy Heroes Bidang Lingkungan (2011)
·         Satya Lencana Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup (2013)


3

Datang ke sekolah-sekolah dan berbicara tentang lingkungan kini jadi kegiatan sehari-hari Paris Sembiring. Padahal, dulu hal ini tidak terbayangkan olehnya. Di akhir tahun 70-an, berbekal ijazah sekolah dasar, Paris mencoba mengadu nasib di Kota Medan, Sumatera Utara. Profesi yang dipilihnya adalah tukang becak. Sehari-hari mengayuh becak, Paris tidak lupa pengalaman masa kecilnya.
Sebagai anak petani, Paris biasa menyemai bibit pohon yang dibuang orang lain. "Saat menarik becak saya sering ketiduran di bawah pohon dan terbangun karena kejatuhan daun atau biji. Dari situ muncullah inspirasi," ujar Paris seperti ditayangkan Liputan 6 SCTV, Minggu (29/9/2013). Beberapa lama kemudian, berbekal ketekunan mengumpulkan bibit pohon, Paris memiliki kumpulan pohon yang disebutnya bank pohon. Paris pun melihat peluang untuk mendapat penghasilan sekaligus membantu penghijauan.
Sejak awal berdiri, tak terhitung sudah bibit pohon lahir dari Bank Pohon milik Paris Sembiring. "Bukan hanya menyiapkan bibitnya, sampai biaya perawatan pun beliau tidak sungkan memberi," jelas Imanuel Ginting, pendeta Gereja Batak Karo Protestan di lingkungan Paris. Sekarang, Bank Pohon pertama menempati lahan seluas satu hektare di Pancur Batu, Deli Serdang, Sumut. Bank ini memiliki sekitar 2 juta bibit berbagai jenis tanaman, termasuk sejumlah tanaman langka dan 16 jenis tanaman tradisional suku Batak Karo.
Di Bank Pohon, para pelajar bisa bebas belajar tentang seluk-beluk pembibitan tanaman. Paris suka berbagi pengalaman, terutama tips cara mudah menyemai bibit pohon. "Kami bangga, karena pendidikan Bapak yang hanya tamat SD tapi bisa sukses menjadi pembina lingkungan," ujar Hezra, pelajar SMPN 1 Sunggal. Kekaguman juga datang dari guru yang melihat Paris bisa memberi inspirasi kepada anak didik. "Kalau dulu hanya menanam, sekarang anak-anak benar-benar cinta pada tanaman dan pohon," ujar Hati Situmorang, salah seorang guru di SMPN 1 Sunggal.
Beragam penghargaan jatuh ke pangkuan Paris, mulai dari Kalpataru hingga penghargaan internasional Ashoka Award. "Dulu saya harap saya yang kuliah ini bisa sukses, tapi bapak yang tamat SD ternyata membalik keadaan," ujar Nursity Br Tarigan, istri Paris. Kini, pria yang berusia 62 tahun ini berharap apa yang sudah ditumbuhkannya selama ini, seperti rasa peduli terhadap lingkungan, terus meluas dan menjadi gerakan nasional.


4

BAB II
Prestasi/ Kesuksesan Narasumber

Saat ini Paris telah memiliki kebun pelestarian seluas tiga hektar di Deli Serdang yang dikenal dengan sebutan Sapo Rukun Bersama Tanaman. Sementara lokasi pembibitan lainnya berada di Pancurbatu yang disebut Sapo Rindu Berkat Tuhan, dan juga di Kelurahan Titi Kuning Medan.

 Kegiatan

·         Pendiri Bank Pohon Indonesia di Sumatra Utara
·         Pembina Parintal Fakultas Pertanian USU
·         Anggota Asoka Innovators for The Public
·         Pembicara pada Berbagai Seminar Lingkungan Hidup
Penghargaan
·         Kalpataru Kategori Pembina Lingkungan Hidup (2003)
·         Kader Konservasi Alam Terbaik I Tingkat Nasional
·         Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup oleh Yayasan Hati Indonesia (2008)
·         Asoka Innovators for The Public
·         Kick Andy Heroes Bidang Lingkungan (2011)
·         Satya Lencana Pembangunan Bidang Lingkungan Hidup (2013)

                                 Gambar 2. Paris Sembiring menerima penghargaan Kalpataru

5

BAB III

Kiat dan Teknik Pendekatan Kreatif
            Laki-laki yang awalnya berprofesi sebagai tukang becak ini menemukan banyak sekali biji pohon mahoni berjatuhan di tempat ia dan becaknya beristirahat siang. Kemudian ia membawa biji-biji tersebut pulang dan mulai melakukan penyemaian di halaman rumah yang disewanya. “Pohon mahoni besar itu sudah memberiku keteduhan saat tidur siang. Jadi tergerak hatiku membibitkan bijinya dan menanamnya. Kuncinya asal mau saja, penarik becak pun tidak tertutup kesempatannya berjasa untuk lingkungan. Kita harus pikirkan, karena pohon-pohon itu kita bisa bernafas. Mari kita sama-sama menanam, minimal satu pohon satu orang,” katanya.


Pada tahun 1978 Paris berhenti menarik becak, dan memutuskan membuka warung kopi di Simpang Pos, kota Medan. Di tanah kosong seluas 4.000 meter di belakang rumah sewaannya itu, Paris mengelola pembibitan berbagai jenis tanaman. Semakin lama pembibitan tersebut semakin besar. Ia pun semakin mantap memproduksi bibit penghijauan dan buah, dalam jumlah besar. Paris kemudian membeli lahan di Desa Lango Seprang, Kecamatan Tanjung Morawa, Medan seluas 4 hektar dan menjadikan lokasi tersebut sebagai tempat persemaian. “Semangat saya pun makin tinggi. Ada bibit yang dijual, ada yang dibagi-bagi untuk penghijauan,” katanya.

6

Sejak saat itu, nama Paris terkenal di kalangan konservator, penggiat lingkungan, instansi pertanian, kehutanan dan lingkungan hidup di kalangan gereja, tokoh agama, pemuda dan pelajar. Paris yang putus sekolah dari bangku kelas II SMP Masehi sering diundang memberi pelatihan bagi kader lingkungan, membuat persemaian hingga ke seminar-seminar berkelas. Ia duduk bersama para profesor pertanian sebagai narasumber.

Perjalanannya semakin sibuk ke berbagai daerah di Indonesia, aktivitasnya padat dan pekerjaannya didedikasikan untuk lingkungan dan masyarakat sosial. Tak sekadar berorientasi pribadi, Paris menyumbangkan bibit-bibit yang dimilikinya kepada masyarakat. Bapak lima anak ini juga gigih membentuk kader konservasi lingkungan hidup. Saat ini tercatat 300 kelompok kader konservasi di Sumatera hasil pembinaannya dengan keanggotaan 15-40 orang per kelompok. Ratusan desa didatanginya. Tak hanya wilayah yang tergolong aman, Paris juga masuk ke wilayah yang menjadi basis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Ia mengaku tak mengalami kesulitan apapun dalam pendekatan kepada masyarakat termasuk dengan pasukan dan pendukung GAM. “Sebab saya datang sebagai saudara mereka,” ucapnya.
Upaya Paris dalam melestarikan lingkungan hidup lebih dari 10 tahun membuatnya dianugerahi 45 piagam penghargaan, diantaranya: Kalpataru kategori Pembina Lingkungan Hidup (2003) dan Kader Konservasi Alam Terbaik I Tingkat Nasional dan Penghargaan Bintang Lingkungan Hidup dari Yayasan Hayati Indonesia (Agustus dan Desember 2008). ”Bumi ini adalah rumah kita, jadi harus kita jaga dan rawat. Agar kelak tetap baik kita wariskan kepada anak cucu,” tegasnya. Perhargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia itu, tidak membuatnya puas. Tanggungjawab moralnya justru semakin besar. Bulan Juni 2004, Paris mendirikan Bank Pohon Sumatera Utara di lahan 1 hektar di Jalan Jamin Ginting Km 15,5 Medan. “Kebahagiaan batin dan berbuat untuk menyelamatkan lingkungan lebih menyenangkan daripada memikirkan harta benda. Lihat itu mobil saya, tetap yang bekas-bekas. Kalau berpikiran berbisnis dari bibit ini, bukannya tak bisa mendapatkan limousin,” kata Paris.

7

Tak kurang 30 juta bibit tanaman telah dibuat Bank Pohon Sumut dan distribusikan secara gratis kepada masyarakat. Bekerjasama dengan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sumatera, Bank Pohon terus berkembang. Saat ini terdapat 12 Bank Pohon di 10 Provinsi, meliputi Medan, Solok, Bengkulu, Palembang, Lampung, Pangkal Pinang, NAD, Tanjung Pinang, Jambi, Karo, Padang Panjang, dan Pekanbaru. 

Seperti kondisi saat ini, beliau mengatakan bahwa ia tetap menjalankan bisnisnya seperti biasa, tidak ada yang berubah dan berkurang sama sekali, ia tetap memperkerjakan karyawan karyawannya dengan menerapkan protocol kesehatan yang dianjurkan WHO dan Pemerintah. Namun saat ini juga,mengingat kondisi dalam masa pandemic Covid-19, beliau menerapkan bisnis daring,yaitu menjual bibit tanaman secara online. Dan omset yang ia dapatkan menurun semenjak covid-19 masuk ke Indonesia. Tapi beliau tidak pernah patah semangat,ia tetap peduli dan cinta terhadap lingkungan.

8

BAB IV

Kesimpulan
        Kesimpulan yang dapat diambil dari kisah Pak Paris Sembiring adalah sebenernya kita semua mampu untuk berwirausaha sesuai dengan passion/minat kita,dan juga sudah saatnya kita mulai menumbuhkan rasa peduli dan cinta terhadap lingkungan kita. Pohon adalah nafas bagi kehidupan manusia, dan tanpanya maka manusia akan mati. Begitulah prinsip hidup yang diterapkan oleh Pak Paris Sembiring. Beliau juga tak kenal lelah dan terus berupaya membangun kesadaran masyarakat yang ditemuinya agar senantiasa membangun keharmonisan antara manusia, alam dan lingkungan hidupnya.
Saran
         Sebaiknya penulis lebih cermat dan lebih detail dalam membuat pertanyaan yang akan diajukan kepada narasumber,dan sebaiknya penulis lebih teliti lagi dalam pemilihan diksi dan pembuatan laporan.

9

DAFTAR PUSTAKA

https://www.changemakers.com/ashoka-fellows/entries/bank-pohon (Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 23:16 WIB),
https://id.wikipedia.org/wiki/Paris_Sembiring (Diakses pada tanggal 30 Mei 2020 20:00 WIB)
Suharti, L., & Sirine, H. (2012). Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Niat    Kewirausahaan (Entrepreneurial Intention)Jurnal manajemen dan kewirausahaan, 13(2), 124-134.